Choasnya Pertandingan AC Milan Melawan Lazio. Malam Sabtu, 29 November 2025, San Siro berubah jadi arena gladiator saat AC Milan menjamu Lazio di pekan ke-13 Serie A. Pertandingan yang seharusnya jadi duel topi-topan malah berakhir chaos total di injury time, dengan Milan menang tipis 1-0 berkat gol Rafael Leao di babak kedua. Tapi sorotan utama bukan gol, melainkan kegilaan di pinggir lapangan: dua pelatih diusir, protes massal, dan keputusan VAR yang bikin wasit disebut “jenius” sekaligus “pembantai” oleh komentator. Skor akhir itu angkat Milan ke puncak klasemen dengan 28 poin, sementara Lazio terjebak di peringkat delapan dengan 18 poin. Laga ini bukan cuma soal tiga poin, tapi pelajaran keras soal emosi yang meledak di sepak bola Italia—dan bagaimana satu keputusan bisa ubah segalanya. INFO SLOT
Gol Leao yang Buka Chaos: Choasnya Pertandingan AC Milan Melawan Lazio
Babak pertama berjalan datar, seperti dua tim saling jaga rahasia. Milan kuasai bola 58 persen, tapi peluang minim—hanya satu tembakan tepat sasaran dari Adrien Rabiot yang digagalkan kiper lawan. Lazio lebih tajam di counter, dengan Mattia Zaccagni nyaris cetak gol di menit ke-28 lewat sundulan dari umpan Adam Marusic, tapi Mike Maignan angkat kaki heroik. Boulaye Dia juga hampir jebol gawang di menit ke-18 dengan lari solo, tapi lagi-lagi kiper Milan selamatkan timnya. Skor 0-0 hingga jeda terasa adil, meski kedua pelatih sudah lempar instruksi sengit.
Enam menit babak kedua, Leao pecah kebuntuan. Fikayo Tomori kirim umpan silang panjang dari sisi kanan, Leao kontrol bola mulus sebelum tendang keras ke pojok jauh—gol keempatnya musim ini. Momentum langsung bergeser, Lazio tekan balik dengan ganti Vecino ke Dele-Bashiru untuk tambah kreativitas, tapi lini tengah Milan yang diatur Youssouf Fofana tetap kuat. Gustav Isaksen lolos marking di menit ke-70, sundulannya melebar tipis. Milan, dengan formasi 3-5-2 fleksibel, kuasai permainan lewat Luka Modric yang beri tiga kunci passing akurat. xG Milan 1.2 lawan 0.9 Lazio, bukti efisiensi tuan rumah yang naik level setelah gol.
Ledakan Emosi di Injury Time: Choasnya Pertandingan AC Milan Melawan Lazio
Chaos meledak di menit ke-112. Alessio Romagnoli lepaskan tembakan keras yang kena tangan Strahinja Pavlovic di kotak penalti. Wasit Giuseppe Collu langsung tunjuk titik putih, Lazio heboh protes—mereka anggap itu peluang emas untuk samakan skor. VAR panggil Collu ke monitor on-field review, dan situasi langsung panas. Pelatih Milan Max Allegri protes sengit, dorong asisten pelatih Lazio Marco Ianni yang ikut campur—keduanya langsung dapat kartu merah karena dissent. San Siro bergemuruh boo dari kedua suporter, pelatih Lazio Maurizio Sarri cuma bisa geleng-geleng kepala dari bangku cadangan.
Review VAR berlangsung panjang, footage tunjukkan Pavlovic alami pelanggaran dari Marusic sebelumnya—keputusan penalti dibatalkan. Sky Sport Italia sebut Collu “jenius” karena pakai common sense, tapi fans Lazio anggap itu “pembobolan siang bolong”. Ini jadi pengingat betapa tipis garis penalti di Serie A musim ini, di mana VAR sudah ubah 12 keputusan serupa. Allegri diusir pertama kali musim ini, Ianni ikut—dua kartu merah pinggir lapangan dalam satu laga, rekor langka yang bikin liga makin panas.
Dampak pada Pemain dan Tim
Pemain di lapangan ikut terpengaruh. Leao, pahlawan gol, harus bertahan mati-matian setelah chaos, sementara Pavlovic—yang sempat dianggap pelanggar—jadi simbol ketangguhan Milan dengan tekel 14 dari 16 duel udara. Maignan selamatkan dua peluang Lazio di babak akhir, termasuk sundulan Zaccagni yang nyaris jadi equalizer. Di kubu tamu, Dia frustrasi karena peluang solonya di awal tak jadi gol, sementara Zaccagni ciptakan dua big chance tapi gagal konversi. Absen kunci seperti Christian Pulisic dan Santiago Gimenez di Milan bikin lini depan kurang tajam, tapi rotasi Allegri—masuk Modric ganti Nkunku—bantu jaga stamina. Lazio, tanpa Cancellieri dan Cataldi, kesulitan ciptakan ritme, meski formasi 4-3-3 mereka beri dua peluang emas yang terbuang.
Kesimpulan
Chaos di San Siro malam itu bukan cuma soal kartu merah dan VAR, tapi cerminan sepak bola Italia yang penuh gairah—kadang kelewatan. Kemenangan 1-0 Milan angkat mereka ke puncak, perpanjang rekor tak terkalahkan jadi 13 laga, tapi bayar mahal dengan Allegri absen di laga berikutnya lawan Juventus. Bagi Lazio, kekalahan ini jadi pelajaran untuk lebih klinis, meski posisi delapan masih aman. Laga ini ingatkan bahwa di Serie A, satu keputusan bisa ubah klasemen, emosi, bahkan karir pelatih. Musim 2025/26 makin seru: Milan siap bertahan di atas, Lazio haus balas dendam. Fans? Mereka dapat cerita abadi—dan mungkin, sedikit trauma.
