3 Dosa Besar Xabi Alonso Bersama Real Madrid. Xabi Alonso resmi ditunjuk sebagai pelatih kepala Real Madrid pada musim panas 2025 setelah sukses membawa Bayer Leverkusen meraih gelar ganda domestik, dan harapan tinggi langsung menyertainya karena rekam jejaknya sebagai pemain legenda klub serta visi permainan modern yang ia bawa, namun setelah setengah musim berlalu pada Januari 2026, performa tim justru menunjukkan tanda-tanda inkonsistensi yang membuat banyak pengamat menilai ada beberapa keputusan krusial yang menjadi “dosa besar” Alonso di mata suporter serta analis, tiga hal utama yang paling sering dibahas adalah penanganan lini tengah yang terlalu bergantung pada pemain tertentu, rotasi berlebihan di lini belakang yang mengganggu soliditas, serta kurangnya adaptasi taktik saat menghadapi lawan yang bermain defensif, sehingga meski tim masih berada di papan atas klasemen La Liga, kritik mulai bermunculan bahwa Alonso belum sepenuhnya menunjukkan keajaiban yang dijanjikan. INFO GAME
Ketergantungan Berlebih pada Jude Bellingham di Lini Tengah: 3 Dosa Besar Xabi Alonso Bersama Real Madrid
Salah satu dosa terbesar yang paling sering disorot adalah ketergantungan ekstrem Alonso terhadap Jude Bellingham sebagai motor utama lini tengah, di mana pemain Inggris itu dimainkan hampir setiap menit di hampir semua kompetisi tanpa rotasi berarti meski jadwal sangat padat, sehingga Bellingham mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan fisik serta penurunan performa di beberapa laga terakhir termasuk kekalahan mengejutkan di kandang dari tim papan tengah, dan meski Bellingham tetap produktif dengan gol serta assist, struktur lini tengah terasa rapuh ketika ia tidak berada dalam kondisi terbaik karena Alonso jarang memberikan kepercayaan penuh kepada opsi lain seperti Federico Valverde atau Eduardo Camavinga untuk mengisi peran box-to-box secara konsisten, akibatnya tim sering kehilangan keseimbangan antara kreativitas dan kekuatan bertahan sehingga lawan mudah mengeksploitasi ruang di area tengah, sebuah masalah yang sebenarnya bisa diminimalisir jika Alonso lebih berani memvariasikan komposisi serta peran pemain.
Rotasi Berlebihan di Lini Belakang yang Merusak Soliditas: 3 Dosa Besar Xabi Alonso Bersama Real Madrid
Keputusan Alonso untuk menerapkan rotasi berlebihan di lini belakang menjadi dosa kedua yang paling banyak dikritik karena ia sering mengubah pasangan bek tengah serta bek sayap dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya dengan alasan menjaga kesegaran pemain, namun hasilnya justru sebaliknya karena kurangnya chemistry antar bek membuat pertahanan tim menjadi rentan terhadap serangan balik serta bola mati, terutama terlihat jelas dalam beberapa kekalahan serta hasil imbang yang seharusnya bisa dimenangkan, misalnya ketika ia memainkan kombinasi bek yang belum pernah berduet sebelumnya di laga krusial sehingga kesalahan individu serta kurang koordinasi sering terjadi, dan meski Alonso beralasan bahwa pendekatan ini penting untuk menghindari cedera di musim panjang, banyak pengamat menilai ia seharusnya lebih memprioritaskan kestabilan di belakang terlebih dulu sebelum bereksperimen, sehingga soliditas yang menjadi ciri khas tim di era sebelumnya mulai luntur dan menjadi salah satu penyebab utama inkonsistensi musim ini.
Kurang Adaptasi Taktik Melawan Tim Bertahan Dalam
Dosa ketiga yang sering disebut adalah kurangnya fleksibilitas taktik Alonso saat menghadapi lawan yang bermain sangat defensif dan parkir bus, di mana ia tetap ngotot menggunakan pendekatan possession tinggi serta pressing agresif meski lawan sudah menutup semua ruang sehingga tim kesulitan menciptakan peluang berkualitas dan sering kali hanya mengandalkan tembakan jarak jauh atau set piece, sebuah pola yang terlihat berulang di beberapa laga melawan tim papan bawah yang berhasil mencuri poin meski kalah kelas, dan meski pendekatan ini berhasil di Leverkusen karena skuad lebih homogen serta pemain lebih terbiasa, di Real Madrid dengan campuran pemain bintang yang punya gaya berbeda, Alonso belum menunjukkan kemampuan untuk mengubah formasi secara signifikan seperti beralih ke 4-3-3 lebih dalam atau memanfaatkan winger lebih aktif untuk membongkar pertahanan rapat, sehingga kritik muncul bahwa ia terlalu idealis tanpa cukup pragmatis di momen-momen krusial.
Kesimpulan
Tiga dosa besar Xabi Alonso bersama Real Madrid hingga Januari 2026—ketergantungan berlebih pada Bellingham, rotasi lini belakang yang merusak soliditas, serta kurangnya adaptasi taktik melawan tim bertahan—menjadi sorotan utama yang membuat performa tim belum sepenuhnya memuaskan meski masih berada di jalur juara, dan meski Alonso memiliki kredit besar karena latar belakangnya sebagai pemain serta kesuksesan sebelumnya, kritik ini menjadi pengingat bahwa transisi dari klub menengah ke raksasa Eropa membutuhkan penyesuaian cepat serta keberanian untuk mengubah prinsip jika diperlukan, sehingga sisa musim ini akan menjadi ujian berat bagi Alonso untuk membuktikan bahwa ia bisa belajar dari kesalahan serta membawa Real Madrid kembali ke puncak dengan gaya yang lebih matang dan efektif.
