Havertz Gol Injury Time Bawa Arsenal ke Final Piala Liga. Di tengah musim 2025/2026 yang penuh gairah, Kai Havertz menjadi pahlawan Arsenal dengan gol injury time yang membawa The Gunners ke final Piala Liga Inggris setelah menang 1-0 atas Chelsea di leg kedua semi-final. Laga yang berlangsung di Emirates Stadium pada 3 Februari 2026 ini menyegel agregat 4-2, menandai kembalinya Arsenal ke final kompetisi ini sejak 2020. Gol dramatis di menit ke-97 itu tidak hanya memastikan tiket ke Wembley, tapi juga menambah sentuhan ironis karena Havertz adalah mantan pemain Chelsea. Di bawah Mikel Arteta, Arsenal tampil tangguh di tengah jadwal padat, sementara Chelsea di bawah Liam Rosenior harus menerima kekalahan yang menyakitkan. Kemenangan ini datang saat Arsenal sedang memburu gelar di berbagai front, termasuk Premier League dan Liga Champions. Artikel ini akan mengulas jalannya pertandingan, momen kunci, serta implikasinya bagi kedua tim. REVIEW FILM
Jalannya Pertandingan: Havertz Gol Injury Time Bawa Arsenal ke Final Piala Liga
Pertandingan dimulai dengan Arsenal memegang keunggulan 3-2 dari leg pertama, memaksa Chelsea untuk menyerang sejak awal. Atmosfer di Emirates tegang, dengan 60.000 penonton mendukung tuan rumah. Arsenal menguasai bola sekitar 55 persen, tapi Chelsea lebih agresif dalam menciptakan peluang melalui counter-attack. Di babak pertama, Cole Palmer nyaris membuka skor dengan tendangan dari luar kotak yang mengenai tiang gawang David Raya. Arsenal balas mengancam lewat Bukayo Saka, tapi tembakannya diblok oleh pertahanan rapat Chelsea dipimpin Levi Colwill. Tidak ada gol hingga turun minum, meski kedua tim mencatat beberapa tembakan off-target.
Babak kedua berlangsung lebih intens. Arteta memasukkan Leandro Trossard di menit ke-60 untuk menambah kreativitas, sementara Rosenior mendorong Chelsea maju dengan substitusi gelandang serang seperti Kiernan Dewsbury-Hall. Peluang emas datang bagi Arsenal saat Martin Odegaard melepaskan volley yang ditepis Robert Sanchez. Chelsea membalas dengan sundulan Enzo Fernandez dari corner, tapi Raya tampil brilian dengan penyelamatan kunci. Laga tampak akan berakhir imbang hingga akhir waktu normal, dengan Chelsea memaksakan serangan untuk memaksa extra time. Namun, di injury time, Arsenal memanfaatkan celah: Declan Rice mengirim umpan panjang, Havertz merebut bola di tengah lapangan, berlari solo, dan mengelabui Sanchez sebelum menyelesaikan ke gawang kosong. Skor 1-0 itu mengunci kemenangan dan menghancurkan harapan Chelsea untuk comeback.
Momen Kunci dan Analisis Taktik: Havertz Gol Injury Time Bawa Arsenal ke Final Piala Liga
Gol Havertz di menit ke-97 menjadi momen paling ikonik, lahir dari transisi cepat Arsenal saat Chelsea mendorong semua pemain maju. Ini mencerminkan kekuatan tim Arteta dalam memanfaatkan kesalahan lawan di fase akhir laga. Havertz, yang dibeli dari Chelsea pada 2023 sebesar 65 juta pound, kini telah mencetak 12 gol musim ini, termasuk yang krusial ini. Secara taktik, Arteta menerapkan formasi 4-3-3 fleksibel, fokus pada pressing tinggi dan penguasaan bola untuk mengontrol tempo. Raya menjadi pilar dengan empat save penting, sementara duet Odegaard dan Rice mendominasi lini tengah.
Chelsea, dengan strategi serangan balik, mencatat lebih banyak tembakan (12 vs 9), tapi hanya dua on target, menunjukkan masalah finishing. Rosenior meninggalkan celah di belakang saat maju, yang dimanfaatkan Arsenal. Expected goals (xG) Arsenal sekitar 1.2, Chelsea 0.8, menggambarkan efisiensi The Gunners. Analisis ini menegaskan evolusi Arsenal dari tim rapuh menjadi kontender tangguh, sementara Chelsea masih mencari konsistensi di era Rosenior, terutama setelah kehilangan pemain kunci di jendela transfer Januari.
Reaksi dan Dampak
Reaksi pasca-laga mencerminkan euforia di Arsenal dan kekecewaan di Chelsea. Arteta memuji mentalitas timnya, menyebut gol Havertz sebagai “bukti ketangguhan di bawah tekanan.” Havertz sendiri menyatakan kegembiraannya mencetak melawan mantan klub, tapi fokus pada final melawan pemenang Manchester City vs Newcastle pada 22 Maret. Fans Arsenal merayakan di media sosial dengan tagar #WembleyBound trending, sementara Rosenior mengakui performa bagus tapi menyesali kegagalan konversi peluang, berjanji perbaikan di liga.
Dampak kemenangan ini besar: Arsenal mendapat boost moral di perburuan gelar Premier League, di mana mereka unggul dua poin atas City. Ini final pertama Arteta sebagai manajer, potensial trofi keduanya setelah FA Cup 2020. Bagi Chelsea, kekalahan menambah tekanan pada Rosenior, dengan fokus bergeser ke liga untuk hindari musim tanpa trofi. Secara luas, laga ini menyoroti rivalitas London, di mana Arsenal kini lebih dominan. Di chart, Arsenal naik sebagai favorit final, sementara diskusi tentang peran Havertz dalam derby menambah narasi emosional sepak bola Inggris.
Kesimpulan
Gol injury time Kai Havertz membawa Arsenal ke final Piala Liga dengan kemenangan dramatis 1-0 atas Chelsea, agregat 4-2. Ini bukan hanya kemenangan taktis, tapi juga dorongan semangat bagi The Gunners di musim kompetitif 2025/2026. Di bawah Arteta, Arsenal menunjukkan ketangguhan, sementara Chelsea perlu introspeksi. Laga ini mengingatkan bahwa sepak bola sering ditentukan momen kecil yang epik. Arsenal kini satu langkah lebih dekat ke trofi Wembley, sementara rival mereka harus bangkit cepat.
