Fleksibilitas Dari Seorang Pemain Eberechi Eze, Bisa Isi 3 Posisi?. Eberechi Eze, bintang Crystal Palace, sedang menjadi buah bibir di Premier League musim 2025/2026. Dengan performa apiknya di laga pembuka melawan West Ham, pemain berusia 27 tahun ini kembali menunjukkan mengapa ia dianggap sebagai salah satu talenta paling menarik di Inggris. Fleksibilitasnya dalam mengisi beberapa posisi di lapangan membuat banyak klub besar meliriknya, terutama setelah Kai Havertz cedera dan Viktor Gyökeres masih kesulitan nyetel di Arsenal. Eze, yang dikenal dengan dribel memukau dan visi permainannya, disebut-sebut bisa bermain di tiga posisi berbeda. Benarkah ia punya fleksibilitas sebesar itu, dan klub mana yang bakal berebut tanda tangannya? Yuk, kita bedah lebih dalam! BERITA LAINNYA
Siapakah Eberechi Eze
Eberechi Eze adalah gelandang serang asal Inggris kelahiran Greenwich, London, pada 29 Juni 1998. Dengan darah Nigeria dari orang tuanya, Eze memulai kariernya di akademi Arsenal sebelum akhirnya dilepas dan bergabung dengan Queens Park Rangers (QPR) pada 2016. Di QPR, ia menonjol sebagai playmaker muda, mencetak 14 gol dan 8 assist dalam 112 penampilan. Pada 2020, Crystal Palace merekrutnya seharga £17 juta, dan sejak itu, Eze jadi tulang punggung The Eagles. Musim lalu, ia mencatatkan 11 gol dan 6 assist di Premier League, menjadikannya salah satu pemain kunci di bawah asuhan Oliver Glasner. Gaya mainnya yang elegan, kemampuan menggiring bola, dan tendangan jarak jauh membuatnya sering dibandingkan dengan legenda seperti Zinedine Zidane versi ringan. Eze juga sudah mencatatkan 7 caps untuk timnas Inggris, meski masih berjuang menembus skuad utama Gareth Southgate.
Di Posisi Mana Aja Dia Bisa Bermain
Fleksibilitas Eze adalah salah satu keunggulan terbesarnya. Pertama, ia paling sering bermain sebagai gelandang serang (nomor 10), di mana ia jadi otak permainan Palace, menciptakan peluang dengan umpan-umpan akurat dan dribel melewati bek lawan. Musim lalu, ia rata-rata membuat 2,4 umpan kunci per laga di posisi ini. Kedua, Eze juga bisa ditempatkan sebagai winger kiri, memanfaatkan kecepatan dan kemampuan one-on-one-nya untuk mengacaukacau pertahanan lawan. Di posisi ini, ia sering memotong ke dalam dengan kaki kanannya untuk melepas tembakan atau umpan silang, seperti yang terlihat saat ia mencetak gol melawan West Ham pada 17 Agustus 2025. Ketiga, meski lebih jarang, Eze bisa beroperasi sebagai gelandang tengah (nomor 8) dalam formasi tiga gelandang, membantu transisi dari bertahan ke menyerang dengan visi dan distribusi bolanya. Kemampuan ini membuatnya sangat berharga bagi tim yang butuh fleksibilitas taktis, apalagi dengan cedera Havertz dan adaptasi Gyökeres yang lambat di klub-klub top seperti Arsenal.
Eberechi Eze Akan Dipilih Sama Tim Apa?
Performa Eze yang konsisten membuatnya jadi incaran banyak klub besar. Manchester City dilaporkan memantau situasinya, terutama karena mereka butuh pengganti sementara untuk Havertz di lini tengah. Pep Guardiola dikabarkan menyukai kemampuan Eze untuk bermain di beberapa posisi, yang cocok dengan sistem rotasi City. Tottenham Hotspur juga jadi kandidat kuat, dengan Thomas Frank melihat Eze sebagai pengganti ideal untuk James Maddison yang rawan cedera. Spurs bisa menawarkan peran winger atau gelandang serang untuk memaksimalkan kreativitas Eze bersama Son Heung-Min. Selain itu, Arsenal juga dikaitkan, apalagi setelah Gyökeres kesulitan nyetel dengan Odegaard dan Saka. Eze, yang pernah di akademi Arsenal, bisa jadi tambahan sempurna untuk lini serang Mikel Arteta. Namun, Palace tidak akan melepasnya dengan mudah. Kontrak Eze berlaku hingga 2027, dan valuasinya kini diperkirakan mencapai £60 juta, terutama setelah klausul rilis £68 juta miliknya kedaluwarsa musim lalu. Persaingan untuk mendapatkan Eze diprediksi sengit, dengan City dan Tottenham punya keunggulan finansial, tapi Arsenal menawarkan daya tarik emosional karena masa lalunya di klub.
Kesimpulan: Fleksibilitas Dari Seorang Pemain Eberechi Eze, Bisa Isi 3 Posisi?
Eberechi Eze sedang berada di puncak perhatian berkat fleksibilitas dan performa gemilangnya bersama Crystal Palace. Kemampuannya untuk bermain sebagai gelandang serang, winger kiri, atau gelandang tengah menjadikannya aset berharga di Premier League, terutama di tengah situasi seperti cedera Havertz dan adaptasi lambat Gyökeres di klub-klub top. Dengan Manchester City, Tottenham, dan Arsenal dikabarkan mengincarnya, masa depan Eze sepertinya bakal jadi salah satu cerita besar di bursa transfer mendatang. Jika ia terus tampil konsisten, harga transfernya bisa melonjak lebih tinggi lagi. Bagi Eze, langkah ke klub yang lebih besar bisa jadi kesempatan untuk bersinar di panggung Eropa dan mengamankan tempat di timnas Inggris. Yang jelas, fleksibilitas dan bakatnya membuatnya layak jadi rebutan. Akankah Eze pindah musim ini, atau Palace berhasil mempertahankannya? Kita tunggu saja kelanjutan saga transfer ini!